7 UKM Peserta Export Coaching Program Berhasil Ekspor Perdana ke Mancanegara

By Redaksi_WU 28 Sep 2021, 01:04:20 WIB WARTA UMKM
7 UKM Peserta Export Coaching Program Berhasil Ekspor Perdana ke Mancanegara

Keterangan Gambar : Ekspor perdana peserta program pendampingan ekspor asal Sulawesi Selatan / Foto: Merdeka.com


WartaUsaha.com – Jakarta. Sebanyak 7 pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) peserta program pendampingan ekspor (Export Coaching Program/ECP) Kementerian Perdagangan berhasil melakukan ekspor perdana ke mancanegara. Ke-7 UKM tersebut berasal dari Sulawesi Selatan dan Yogyakarta dengan produk industri kerajinan, kayu dan produk kayu, serta makanan dan minuman.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi menyampaikan, capaian ini merupakan hasil kerja sama Kemendag dan Dinas yang membidangi perdagangan di Provinsi Sulawesi Selatan dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, capaian ini merupakan hasil keja keras dan komitmen kuat pelaku UKM peserta ECP.

“Keberhasilan pelaku UKM ini cukup membanggakan di tengah kendala logistik kelangkaan kontainer ekspor selama pandemi Covid-19. Kemendag akan terus mendampingi, membantu, mendorong, serta memfasilitasi para pelaku usaha potensial dalam meningkatkan kesiapan ekspor untuk mendukung ekspor nasional,” ungkap Didi di Jakarta, pada (25/9/2021).

Baca Lainnya :

Pelaku UKM yang berasal dari Sulawesi Selatan yakni PT Bumi Runut Bersama dengan produk serat  kelapa sebanyak satu kontainer senilai USD 5.135 ke Tiongkok, CV Sumber Pangan Nusantara dengan produk bahan makanan sebanyak satu kontainer senilai USD 7.230 ke Malaysia, serta CV LARS dengan produk rumput laut senilai USD 1.764 ke Taiwan.

Sedangkan UKM dari Yogyakarta, yakni CV Ride One Gallery dengan produk cermin antik ke Prancis senilai USD 24.600 dan produk kerajinan kaca ke Belgia senilai USD 11.791, CV Solobeat dengan produk stik drum sebanyak 1.000 pasang ke Ghana senilai USD 4.000 dan 200 pasang ke Kolombia senilai USD 1.200, PT Bumicharya Utama Luhur dengan produk lantai jati ke Italia senilai EU 69.000, serta PT Serena Sejahtera dengan produk salak sebanyak 6.500 kg ke Kamboja senilai USD 14.553.

Didi mengungkapkan capaian ini melanjutkan keberhasilan UKM peserta ECP sebelumnya yang telah berhasil melakukan ekspor perdana. Sebelumnya, pada 2021 ini juga, terdapat pelaku UKM program ECP asal Jawa Timur, Jawa Tengah, Aceh, dan Banten juga berhasil melakukan ekspor dengan produk serat kapuk, arang kelapa, kelapa, alas kaki, kerajinan kaca, tas kerajinan aceh, bubuk kelapa, damar batu, produk kaca, serta interior dari batu alam, dengan negara tujuan India, Rusia, Vietnam, Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Argentina, Angola, dan Belanda.

Kepala Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI) Heryono Hadi Prasetyo menambahkan, terdapat beberapa kendala yang sering dihadapi pelaku usaha dalam melakukan ekspor perdana. Kendala tersebut di antaranya adalah keterbatasan kapasitas produksi, sumber daya manusia, pemahaman mengenai persyaratan, dan strategi promosi.

“Kendala lainnya yakni terdapat keterbatasan pengetahuan tentang regulasi ekspor, baik di dalam negeri maupun di negara tujuan ekspor. Untuk itu, melalui ECP peserta diharapkan dapat menambah wawasan mengenai cara mengatasi berbagai kendala yang dihadapi untuk menjadi eksportir yang tangguh,” ujar Heryono.

Heryono mengungkapkan, dari delapan tahapan ECP, untuk Sulawesi Selatan dan DI Yogyakarta akan memasuki tahap ketiga yaitu Pendampingan Market Development. PPEI bersama para pengajar dan tim dari Dinas Perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan dan Daerah Istimewa Yogyakarta berkomitmen untuk memotivasi dan mendampingi peserta agar berhasil menembus pasar ekspor. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari kemauan pelaku UKM dalam mengikuti proses pendampingan dan berkonsultasi dengan pengajar untuk hal-hal yang bersifat teknis dalam persiapan ekspor, seperti kelengkapan dokumen dan proses pengiriman.

Heryono melanjutkan, meskipun program ECP masih belum selesai, ketujuh pelaku UKM asal Yogyakarta dan Sulawesi Selatan telah berhasil melaksanakan kegiatan ekspor secara mandiri. Selain itu, UKM tersebut akan melakukan kegiatan ekspor berkala meski di tengah kondisi ketidakpastian global akibat pandemi Covid-19.

“Peserta ECP diberikan pendampingan mengenai kesiapan dokumen ekspor, hal-hal yang perlu dipersiapkan saat negosiasi dengan calon buyer, pengetahuan tentang kepabeanan dan pengiriman barang ekspor, kalkulasi harga ekspor, dan sistem pembayaran ekspor. Diharapkan dengan program ini, semakin banyak UKM yang berhasil melakukan ekspor sehingga mendorong peningkatan ekspor Indonesia di pasar global,” tutup Heryono.*

(editor: antofik)



 

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment