Tak Terima BLT UMKM, Pelaku Produk Handycraft Ini dapat Survive dengan Menjual Masker

By Redaksi_WU 03 Feb 2021, 06:00:10 WIB PROFIL UMKM
Tak Terima BLT UMKM, Pelaku Produk Handycraft Ini dapat Survive dengan Menjual Masker

Keterangan Gambar : Ekawati Prayitno di tempat usahanya. Foto: Dok. Pribadi & WartaUsaha.com / Antofik


WartaUsaha.com – Jakarta. Ekawati Prayitno (55), mantan guru Paud yang kini beralih profesi sebagai wirausaha handycraft ini mengaku omzet usahanya menurun akibat pandemi Covid-19. Karena itulah ia mencari ide kreatif agar usahanya itu harus tetap berjalan. Dengan menjual masker yang kini dibutuhkan masyarakat, alhasil ia pun kini dapat survive menjalankan usahanya.

Sejak tahun 2011, wanita asal Jakarta yang akrab disapa Eka ini membuat kerajinan tangan dari daur ulang kantong plastik. Usaha yang dirintisnya antara lain membuat kerajinan tangan daur ulang berbahan limbah plastic seperti; tas, dompet, tempat pensil, kap lampu hias, dan tudung saji.

Bermula dari latar belakang keprihatinan ibu beranak satu ini melihat banyaknya limbah plastik yang ada di sekitar lingkungannya. Hal itulah yang memotivasinya untuk mengolah limbah tersebut bersama warga di sekitar tempat tinggalnya, di Jatipadang, Pasar Minggu ini menjadikan produk yang memiliki daya jual dan bernilai ekonomis.

Baca Lainnya :

Berkat kegigihan Eka dalam merintis usaha, wanita kelahiran Jakarta 12 Pebruari 1966 ini pun akhirnya berhasil mewujudkan idealismenya untuk menciptakan lingkungan yang lebih asri. Melalui produk handycraft yang ia ciptakan, dengan mengikuti berbagai event pameran dan perlombaan, tercatat sudah enam penghargaan yang diraih oleh Eka atas usaha kerajinan yang dirintisnya. Penghargaan itu antara lain:

Tahun 2012 Eka meraih Juara 3 Lomba UP2K se Jakarta Selatan, Tahun 2013 Juara 2 UP2K tingkat DKI Jakarta, Tahun 2014 ia meraih Juara I Kader UPPKS Terbaik Tingkat DKI Jakarta dan juga Juara II Lomba UPPKS tingkat DKI Jakarta, di Tahun 2017 ia juga meraih Juara I UP2K tingkat DKI Jakarta, dan di Tahun 2018 lalu ia berhasil meraih Juara Harapan I UPPKS pada tingkat Nasional.


Tampaknya, prestasi yang Eka raih itu tak berbanding lurus dengan pendapatan usahanya di bidang handycraft, kini prestasi itu bisa dibilang tinggal kenangan. Sebab, dampak pandemi corona yang melanda bangsa ini membuat daya beli masyarakat melemah, akhirnya wanita lulusan Sarjana Pendidikan ini pun memutuskan untuk mencari ide kreatif. Lalu kemudian memproduksi dan menjual masker kain motif yang saat ini lebih dibutuhkan masyarakat.

Lewat produk masker inilah Eka bersyukur dapat terus menjalankan usahanya, meski diakuinya penjualan handycraft-nya masih tetap jalan namun harus‘terjun bebas’.

“Awalnya karena masih sedikit yang menjual masker kain, penjualan masker yang saya produksi Alhamdulilah berjalan lancar. Bahkan dalam satu hari saya bisa menjual masker sebanyak 30 lusin, tutur Eka saat diwawancarai WartaUsaha.com di tempat usahanya di Koperasi Sejati Mulia di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Agar masker buatan Eka itu mampu berdaya saing, istri dari Ali Zuhri ini juga selalu membuat masker dengan berbagai motif. Pembuatannya pun dilakukan secara beragam. “Karena saat ini hanya masker yang bergerak, maka saya selalu membuat masker yang beragam. Ada yang dibordir, dilukis, dan lain-lain. Selalu ada motif baru agar pembeli tidak bosan,” katanya.

Penghasilan yang Eka dapatkan dari menjual barang kerajinannya itu diakuinya dapat mencapai Rp70 - Rp90 juta per tahun. Akan tetapi karena terdampak pandemi Covid-19, penjualan barang kerajinannya kini menurun 20%.

Berharap Bantuan Pemerintah

Karena usahanya yang ikut terdampak pandemi, Eka berharap agar ia juga dapat bantuan usaha dari pemerintah yang saat ini sedang gencar diberikan untuk pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Namun sangat disayangkan, pada kenyataannya Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang digelontorkan oleh pemerintah belum benar-benar merata didapatkan oleh semua pelaku UMKM, termasuk Eka.


“Saya sedih sekali tidak bisa mendapatkan dana bantuan, karena saya masih ada pinjaman di bank. Saya sangat mengharapkan bantuan itu, karena saya harus membayar sewa toko dan cicilan bank. Sementara omzet sedang tidak baik,” ungkap ibu dari Bagus Ahmad Zamzami.

Sebab, salah satu syarat penerima BLT adalah tidak sedang menerima kredit atau pembiayaan dari perbankan dan KUR. Syarat ini dinilai cukup memberatkan para pelaku usaha yang mempunyai tunggakan dana pinjaman di bank.

Tidak sedikit para pelaku UMKM yang memiliki pinjaman di bank untuk keperluan usahanya. Eka adalah salah satunya yang memiliki pinjaman di bank, sehingga sangat disayangkan bila kriteria penerima BLT UMKM mengharuskan penerimanya bebas dari utang bank. Oleh karena itulah Eka berharap agar ke depannya pemerintah lebih memperhatikan pengusaha kecil, terutama bagi mereka yang baru merintis usahanya. (red.wu)

- Hurryyati Aliyah

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment