Tawarkan Sistem Kemitraan, Waralaba Warteg Kharisma Bahari Sukses Buka 500 Cabang di Berbagai Daerah

By Redaksi_WU 08 Jan 2021, 14:02:47 WIB PROFIL WARALABA
Tawarkan Sistem Kemitraan, Waralaba Warteg Kharisma Bahari Sukses Buka 500 Cabang di Berbagai Daerah

Keterangan Gambar : Foto: WartaUsaha.com/Antofik


WartaUsaha.com – Jakarta. Siapa yang tidak kenal Warung Tegal (Warteg)? Warung makan asal Tegal, Jawa Tengah ini begitu familiar di masyarakat kalangan menengah bawah. Dengan  pilihan menu beragam dan harganya pun terjangkau, tempat makan ini juga mudah ditemukan di pinggir jalan di Jabodetabek.

Kisah sukses para pemilik warteg dengan rumah-rumah gedong di kampung daerah asalnya, Tegal, Jawa Tengah sudah menjadi rahasia umum. Maka tak heran wirausaha warteg hingga kini terus tumbuh pesat di berbagi daerah.

Namun kondisi berbeda ketika virus Covid-19 melanda negeri ini sejak hampir setahun lalu. Dampak pandemi ini juga dirasakan para pengusaha warteg. Melansir data Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara), hingga 2020, total ada 10.000 warteg atau sekitar 25% mulai meninggalkan ibu kota sejak PSBB jilid I diterapkan. Kebijakan tersebut mengakibatkan turunnya jumlah pelanggan secara drastis, begitu juga beban sewa tempat yang tidak bisa mereka penuhi.

Baca Lainnya :

    Tetapi berbeda apa yang dialami Yudhika, pemilik Warung Tegal Kharisma Bahari. Meski juga terdampak pandemi, namun tak seperti umumnya warteg yang ada, ia mengelola dan mengembangkan usahanya ini dengan sistem franchise atau waralaba, dan usahanya ini tetap tumbuh di berbagai daerah.

    Usaha Warteg Kharisma Bahari diketahui dibangun oleh Yudhika sejak lebih dari 20 tahun yang silam. Warteg legend, begitu mungkin julukan yang cocok untuk warteg yang cabangnya telah tersebar dimana-mana ini. Jika pada 2018 ada 210 cabang di Jabodetabek, namun dalam 2 tahun kini tembus mencapai 500 cabang di sekitar pulau Jawa.

    Warteg yang selama ini terkesan tak nyaman, melalui Warteg Kharisma Bahari, Yudhika menjadikannya elegan, bersih, dan nyaman. Alhasil, di tangan Yudhika warteg kini “naik kelas”. Lalu bagaimana pria asal Tegal, Jawa Tengah yang akrab disapa Sayudi ini mengelola dan mengembangkan bisnis wartegnya ini?

    Sayudi membeberkan bagaimana usaha Warteg Kharisma Bahari miiknya itu dapat berkembang  hingga kini punya 500 cabang. Awalnya, warteg milik pria asal Tegal ini hanya buka cabang dengan karyawan dan mengelola usaha sendiri sejak 25 tahun lalu, tetapi ternyata menurutnya tidak efektif. Oleh karena itulah ia mulai menjalankan sistem franchise atau waralaba yang ia jalankan dimulai 11 tahun yang lalu. 


    Sayudi, pemilik Waralaba Warteg Kharisma Bahari/foto: istimewa

    Berawal membuka mitra atau cabang di wilayah Jabodetabek, namun sekarang Sayudi mencoba melebarkan bisnisnya di luar wilayah itu, ‘’Ya, sekarang baru ada enam cabang di luar Jabodetabek. Di Bandung ada tiga, Semarang dua, dan Purwokerto satu cabang, jelas Sayudi ketika dihubungi WartaUsaha.com.  

    Sejak memutuskan untuk membuka sistem waralaba dengan prinsip kemitraan bersama investor, Warteg Kharisma Bahari perlahan mulai berkembang. Beberapa cabang memang dimiliki oleh Sayudi, namun beberapa cabang lain dikelola oleh mitranya atau investor.

    Sayudi juga menjelaskan bagaimana caranya bila ada yang tertarik untuk bergabung menjadi mitranya? Menurutnya, cukup membayar uang modal sekitar Rp 110 Rp 150 juta, mitranya sudah bisa membuka Warteg Kharisma Bahari. Harga tersebut termasuk pembelian nama dan pelatihan masak untuk karyawannya.

    Lebih lanjut mantan pedagang kaki lima di terminal bilangan Jakarta Timur ini menjelaskan, bila investor meminta karyawan darinya, ke depannya kemitraan mereka berupa bagi hasil dengan laba bersih dibagi dua, 50% untuk pengelola dan 50% nya lagi untuk investor. Keperluan untuk kios warteg juga akan disediakan Sayudi, seperti perabotan meja, kursi, etalase makanan, alat masak, tiga orang karyawan, serta pengelola atau tukang masak.

    Menurutnya, biaya modal di atas belum termasuk dengan biaya sewa tempat, tergantung lokasi dan besar kecilnya kios. Karena ada 3 tipe Warteg Kharisma Bahari yang diperkenalkan Sayudi selama ini, yaitu kecil, sedang, dan besar. Perbedaannya terletak pada ukuran kios.

    Pihak yang ingin bermitra harus mencari sendiri lokasi kiosnya, tetapi Sayudi tetap akan memberikan referensi di mana lokasi yang baik untuk membuka bisnis warteg yang satu ini. Hanya saja ia katakan, untuk cabang yang berada di luar wilayah Jabodetabek ada tambahan biaya sebesar Rp 10 juta.

    Setelah investor membayar uang modal, Sayudi pun sudah tidak lagi menerima pendapatan dari mitranya ini. Hal tersebut dikarenakan sistem bagi hasil bukan ke Sayudi lagi, melainkan ke pengelola yang ia tempatkan di warteg mitranya.

    Seperti telah dijelaskan di atas, para mitra atau investor akan mendapatkan tiga orang karyawan dan pengelola atau tukang masak. Pihak investor harus menggaji karyawan yang berjumlah tiga orang itu sekitar Rp 1,5 juta per bulan.

    “Tapi pendapatan bersih warteg harus dibagi dua dengan pengelola atau si tukang masak. Jadi misalnya, keuntungan bersih sebesar sepuluh juta, maka investor bisa mendapatkan 5 juta dan pengelola 5 juta,” jelas pria lulusan sekolah dasar ini.

    Selain unggul di sistem kemitraan, faktor lain yang membuat warteg ini berkembang dan dikenal oleh masyarakat luas adalah pelayanan serta kebersihan tempatnya. Warteg Kharisma Bahari memang menawarkan konsep yang sedikit berbeda dari warteg lain pada umumnya.

    Sayudi memilih konsep dengan keramik dan warna interior yang soft, sehingga warteg pun terkesan lebih bersih dan nyaman saat dikunjungi. Sedangkan, soal harga makanan yang disajikan, harga yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan warteg-warteg pada umumnya atau bisa dibilang relatif sama. Oleh sebab itu, tak heran bila banyak orang mencari menu makanan sederhana yang siap saji di warteg ini. (Red.WU)

    - Hurryyati Aliyah




    Write a Facebook Comment

    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    View all comments

    Write a comment