Terus Bergerak Kreatif dan Berinovasi, Owner Kaos Curcol ini Mampu Survive di Tengah Pandemi
Guna tingkatkan ketajaman strategi dikondisi new normal, Muhammad Suaisa (50) terus bergerak kreatif dan terus belajar berinovasi. Meski terdampak pandemi, brand Kaos Curcol miliknya mampu survive di tengah kondisi abnormal ini.

By Redaksi_WU 10 Nov 2020, 18:15:18 WIB PROFIL WIRAUSAHA
Terus Bergerak Kreatif dan Berinovasi, Owner Kaos Curcol ini Mampu Survive di Tengah Pandemi


Industri kreatif meski terdampak pandemi Covid -19, diakui tidak hanya mampu bertahan, namun juga mampu memunculkan ide-ide baru hingga tercipta bisnis/peluang usaha baru. Dengan terus bergerak kreatif dan berinovasi, seseorang yang menekuni bidang ini dengan semangat juangnya tentu tak akan pernah menyerah dengan kondisi.

“Bingung mau jualan apa? Ya nggak usah bingung. Apa aja yang bisa dijual. Tugas kita cuma mempertemukan market dengan produk.” Itulah kalimat sederhana dari Faisal nama panggilan akrab Muhammad Suaisa.

Baca Lainnya :

Cukup lama Faisal berprofesi sebagai seorang desain grafis di sebuah percetakan. Pengalamannya itulah membawa pria lulusan SMA ini temukan passion-nya di bidang mode atau fesyen. Dengan brand Kaos Curcol yang ia kreasikan sendiri setahun yang lalu, membawanya menikmati hasil bisnisnya di bidang kaos berkata-kata kreatif itu. “Usaha yang sedang saya jalankan saat ini yaitu sablon custom desain suka-suka dengan brand Kaos Curcol (Curhat Colongan),” kata pria kelahiran Brebes, 2 Pebruari 1970 ini.

Memulai wirausaha sablon custom desain suka-suka dengan brand Kaos Curcol itu baru dimulai awal pada 2019 lalu. Ayah 7 orang anak ini membuat kaos dengan kata-kata pesanan dari customer, “Motivasinya karena saya suka desain dan dunia sablon, makanya saya menekuni bisnis ini. Memakai kata Kaos Curcol (Curhat Colongan) maksudnya para customer bisa curhat apa saja melalui tulisan di kaos yang mereka pesan,” jelasnya.

Salah satu prestasinya di bidang usaha ini, ketika baru dua bulan launching diawal-awal usahanya berjalan, dengan rate harga kaos custome Rp 100 ribu – Rp 150 ribu per psc, Kaos Curcol produksinya ini mampu tembus 1000 pcs. Namun baru saja setahun nikmati hasil wirausahanya di 2019, Faisal pun harus menerima kenyataan pahit. Musibah virus corona melanda hampir sepanjang 2020 ini membuat omzetnya turun hingga 50%. “Sebelumnya Rp 300 juta setahun, dampak pandemi ini berkurang hingga 50%,” tukas suami dari Lia Utami ini.


Sebelum adanya wabah ini menurut usahawan yang menempati usaha di Taman Royal, Cipondoh Tangerang ini, daya beli masyarakat masih tinggi. Sehingga omzet penjualan pun sangat baik. Tetapi karena usahanya ini bergerak di bidang fesyen, maka diakuinya pada saat pandemi terasa sekali dampaknya, “Sebab sekarang orang lebih memilih membeli kebutuhan pokok dahulu, dikarenakan penghasilan mereka pun menurun drastis akibat wabah Covid-19,” terangnya.

Namun di tengah kondisi abnormal ini, ia terus kreatif berinovasi, dengan terus belajar untuk meningkatkan strategi-strategi baru dalam pemasaran. Salah satunya menjual secara online. Baik melalui medsos maupun yang lainnya. “Pandemi yang berkepanjangan membuat kita mau nggak mau harus belajar dunia digitalisasi, karena konsep itulah yang paling tepat diterapkan saat ini,” tukasnya.

Dengan demikian maka usaha Kaos Curcol ini pun tetap bertahan dan berjalan di tengah masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan pokok daripada membeli kaos kata-kata kreatif saat ini. 

“Pandemi bukan alasan kita pasrah pada nasib, selama kita masih punya daya juang, selama itu juga kita memiliki peluang. Tuhan tidak melihat Anda mantan apa? Tetapi yang lilihatNYA Anda akan menjadi apa?” katanya memotivasi.

Tak hanya Kaos Curcol yang ia tekuni, beberapa usaha juga pernah ia lakoni sebelumnya. Mulai menjadi member, juga presenter produk dan trainer di salah satu perusahaan MLM, dan hingga kini pun ia masih memiliki usaha di bidang lain yakni kuliner Azzahra Kitchen.

Terkait BLT pemerintah yang marak didapatkan para pelaku UMKM, Faisal akui tidak menerima alias tidak mendapatkan bantuan tersebut. “Saya tidak dapat BLT. Saran saya dalam pendistribusian BLT harap menggunakan data terbaru, karena banyak yang tidak tepat sasaran dikarenakan masih menggunakan data lama,” ungkap wirausahawan yang tinggal di Ketapang Poncol, Cipondoh Tangerang, Banten ini.

Kepada pemerintah Faisal berharap, agar para pelaku usaha sejenis dapat diberikan kemudahan dalam mengurus legalitas dan hak paten desain, serta merk dagang. Sementara untuk wirausaha Kaos Curcol miliknya, ia berharap dan mentargetkan ke depan memiliki 100 reseller dengan omset rata-rata Rp 10 juta per reseller/ bulan. (Red.WU)

Penulis: Taufik Rakhmanto




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment