Tingkatkan Kreatifitas & Strategi, Pelukis Kopi Ini Survive Selama Pandemi

By Redaksi_WU 28 Okt 2020, 15:30:27 WIB PROFIL WIRAUSAHA
Tingkatkan Kreatifitas & Strategi, Pelukis Kopi Ini Survive Selama Pandemi

WartaUsaha.com - Jakarta. Industri kreatif juga salah satu sektor yang terdampak pandemi. Banyak pelaku di industri ini harus beradaptasi dengan kondisi. Hal itu juga yang dilakukan sang pelukis kopi Arya Setra (48) yang mampu survive dimasa pandemi. Disinilah tampaknya pandemi mendorong industri kreatif berkreasi dan berinovasi.



Baca Lainnya :


Menikmati kopi bukan saja soal rasa pada lidah. Tetapi bisa juga dirasakan lewat mata melalui maha karya lukisan dari ampas kopi bernilai seni tinggi. Itulah kreatifitas sang pelukis Arya Setra yang membuat lukisan dengan bahan baku dari ampas kopi dan juga air kopinya.

Kepada WartaUsaha.com Arya Setra yang memiliki nama asli Anang Solih ini menuturkan, bahwa bakat hobi melukisnya telah ada sejak duduk di bangku sekolah dasar. Namun ia mulai serius terjun ke dunia seni lukis sejak tahun 2000-an, setelah berhenti bekerja sebagai karyawan hotel dari 1992 hingga 1998, dan kemudian berwirausaha komoditi. Lalu sejak 3 tahun terakhir pria lulusan SMA ini juga berwirausaha berjualan kopi Gayo dari Aceh.

Keseriusan ayah dua orang anak ini menjadi pelukis kopi, berawal darinya yang tak sengaja menumpahkan kopi di atas kanvas lukisannya. Dari sanalah Arya Setra dengan sentuha tangannya berhasil menciptakan sebuah lukisan abstrak dari air kopi yang ternyata banyak diminati karena keunikannya.

“Usaha kopi sudah tiga tahun. Kalau melukis pake kopi dimulai dari tahun 2013. Motivasinya adalah bahwa Indonesia ini salah satu penghasil kopi terbesar di dunia dan potensi pasarnya sangat terbuka lebar,” kata ayah dari Julian Baruna Diwani Pranata dan Anya Dwi Novia Ramadhanty ini.

Dari sanalah Arya Setra yang lahir di Bandung 18 Juni 1972 ini juga memiliki misi untuk memperkenalkan kopi Indonesia lewat lukisan dari kopi yang merupakan suatu bentuk karya seni baru. “Kami di sini ingin memperkenalkan kopi nusantara melalui medium yang berbeda, yaitu lukisan,” ujar Arya seperti dikutip dari Kompas.com.

Lebih lanjut Arya mengatakan, bahwa melukis dari kopi tidak semudah melukis dengan cat biasa. Kopi jauh lebih rumit, warnanya tipis dan mudah pudar. Lukisan yang dibuatnya umumnya bergaya surealistik dengan berbagai tema. Mulai dari alam, tokoh dan juga abstrak, dengan harga lukisan beragam, mulai ditawarkan dengan harga Rp 1,5 juta sampai Rp 30 jutaan.

Kepada WartaUsaha.com Arya mengatakan, salah satu karyanya yang baru saja selesai dibuat adalah melukis wajah Presiden Finlandia Sauli Vainamo Niinisto dan perdana menterinya Sanna Marin. Juga Presiden Estonia Kersti Kaljulaid dan perdana menterinya Juri Ratas. “Untuk lukisan kopi saya sudah mengerjakan beberapa dan lukisan potret menggunakan bahan baku kopi para pejabat dan dua presiden dan perdana menterinya, Finlandia dan Estonia,” katanya.

Menurut Arya dimasa pandemi ini usaha kopinya yang dirintis tiga tahun lalu, ia akui harus rela distop sementara waktu. Meski omzet berjualan kopi sebelum pandemi Rp 50 juta hingga Rp 100 juta pertahun, “Dari usaha kopi sekitar Rp 50 sampai Rp 100 juta per tahun. Kalau dari lukisan Rp 100 sampai Rp 200 juta per tahun, tapi di masa pandemi ini berkurang dikisaran 50%,” ujarnya.

Meski wirausahanya ini juga terdampak pandemi hingga omzetnya turun 50%, namun seniman yang melakoni usahanya di Pasar Seni Ancol Blok C No. 94, Taman Impian Jaya Ancol Jakarta ini  bersyukur, berkat meningkatkan kreatifitas dalam produk dan strategi marketing nya, Arya sukses mendapatkan order 19 lukisan.

“Emang selama pandemi ini untuk usaha kopi emang stop dulu. Tapi untuk lukisan kopi alhamdulillah, selama pandemi saya dapat order sebanyak 15 potret wajah menggunakan bahan kopi dan 4 wajah menggunakan cat biasa. Itu karena meningkatkan kreatifitas dalam produk dan strategi marketingnya,” ungkap pendiri Komunitas Indonesia Kopi Arts ini.

Meski menjalankan usaha dan berprofesi di sektor ekonomi kreatif yang masuk dalam kateori UMKM, namun Arya mengaku tidak mendapatkan BLT dari pemerinah yang kini marak diburu para UMKM. “BLT saya tidak dapat. Saya tidak terlalu berharap sih masalah ini. Yang saya harapkan adalah bantuan yang berkesinambungan untuk kemajuan usaha yang kita kerjakan. Bukan bantuan sesaat yang hari ini di berikan 2 atau 3 hari saja sudah habis. Tapi bantuan yang diharapkan adalah membangun simbiosis antara para pelaku usaha dengan pemerintah, terutama dari segi marketing nya,” ungkapnya berharap. 

Ke depan Arya berharap lebih banyak lagi orang mengenal kopi Indonesia dan ia siap memperkenalkannya melalui media lukis. Dengan begitu, Arya pun memiliki target bagaimana usaha yang ia jalankan bersama komunitas Indonesia Kopi Arts bisa lebih baik, maju, dan berkembang. (Red.WU)

Penulis : Taufik Rakhmanto

Foto : Dok. Pribadi




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment